RATAPAN SEORANG WAFAT

Aku maish ingat tentang hari itu dengan datangnya. Beliau dengan tampan santai dan penuh kasih, serta suaranya yang penuh wibawa tak kuasa aku melihat wajahnya yang begitu yeduh dan mendengarkan suaranya yang begitu lirih. Begitu dia berucap tentang apa yang aku utamakan.

Tua benar umurmu, wahai ibu malang benar nasibmu, wahai ibu apakah kau tak meminta tolang kepada anak-anakmu? Jawabannya yang lirih membuat aku terkagum. “wahai anak adakah aku yang merantau dan tersakiti dalam diri ini anak-anakku yang kian lama kian membesar, mana mumgkin mnoleh kebelakng untuk menjengukku”.

Tak kuasa aku memeluknya erat-erat serta ku bisikkan sebagian kata untuk menceritakan sesingkat masa lalunya. “engkau adalah engkau yang melahirkannya , engkau yang membesarkannya, namus setelah mandiri malah berpaling tak kembali. Tabahkanlah hatimu walau kau mempunyai anak yag telah kau lahirkan anak iyu pasti sakit dengan sendirinya, dia pasti mengalami kekosongan di dalam hatinya, suatu hari wahai ibu akan datang di mana engkau di sanjung atas engkau mempunyai kesabaran yang tiada banding.

Beliau memiliki pandangan yang panjang tatapannya yang menerawang, seakan-akan melihat mas depan dan berucap, “mereka-mereka yang telah lalai tidak akan memandang kehilangan serta tidak akan berfikir tentang dimana asalnya, dahulu kutimang, kubelai, kukasih dengan separuh hidup, namun sekarang mereka lari. Ku tatap dia dan bertanya mereka? Berapaanak yang engkau punya duhai ibu? Dan kemana pula engkau punya anak sebanyak itu?”.

Dengan nada yang kalem dia memandangku dengan menoleh dia berucap “engkau tak perlu tau wahai anakku mereka terlau banyak dan mereka telah berada di mana-mana, apakah engkau tidak mengetahui anak-anakku wahai anakku?” Dia yag tua dan penuh kasih balik bertanya kepada orang ini yang di lindung dan tak mengetahui apa yang beliau ucapkan.

Akupun bertanya kembali apa maksut pembicaraan dan apa maksut yang mendorong dia telah terlalu berat menaggung beban yang seperti ini sehingga dia menganggap semua orang dan semua anak dianggapnya anak.

Mendengar kata-kata yang kutanyakan wanita tua yang berumur itu kaget dan taklama dia menyentuhku dan memelukku entah apa yg dia inginkan, dia menatapku serasa anaknya serta sentuhan keibuannya membuat hati semua ornagpun luluh beliaupun berkata “apakah emgkau tak merasakan wahai anakku? Apakah dirimu yang sudah lupa wahai anakku, saya telah berumur tak mampu tuk mengingat masa-masa lau namun hati seorang ibu dapat merasakan sejauh apapun, setebal apaun jiwa seorang ibu kan terasa tenang dan akan hidup, ataupun tuk menginagt.

Apapun tentang anakku  namun aku merasakannya dia telah disini. Kubelai dia dan kupeluk orang tua itu akupun bertanya apakah aku salah, adapun aku yang telah salah akan kefahaman, lalu kubertanya ibu ini siapa? Dan dari mana? Diapun lugas menjawab, namus agak terkesan malau akan dirinya yang telah tahu mampu “namaku adalah ibu pertiwi semua yang ada di cengkraman garuda itu adalah anak-anakku, dan sekarng mereka lupa bahwa aku seorang ibu yang telah melahirkannya, akupun tertunduk lesu dan merobohkan diriku” maafkan akau sekali lagi maafkan aku duhai ibu pertiwi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s