Mitos Orang Lamongan Yang Tidak Boleh Memakan Lele

250px-Monumen_Bandeng_Lele,_Lamongan.jpg

Dahulu ada seorang putri cantik yang termenung di tepian pantai pesisir lamongan. Putri tersebut berasal dari desa Terbis yang juga termasuk daerah Lamongan, pada saat itu pula datanglah seorang pemuda tampan yang menghampirinya serta ingin mempersuntingnya menjadi istrinya. Putri tersebut mensetujui ucapan pemuda itu dan menikahlah mereka serta hidup bahagia, pernikahan itupun membuahkan anugrah yang sangat besar tidak hanya mereka hidup bahagia melainkan sang putri hamil dan akan segera mempunyai anak. Pemuda itu sangat bahagia, akan tetapi beliau tidak dapat menyambut kelahiran anaknya kelak karena sedang mengemban tugas untuk pergi dari lamongan.

Sebelum pergi dari Lamongan Pemuda tersebut berwasiat kepada sang istri.” Kelak anak kita akan lahir laki laki dan jangan kasih nama apapun kecuali nama Boyo Patih” kata pemuda kepada istrinya. Putri terbis pun menuruti apa yang sudah di wasiatkan oleh sang suami. Tak lama dari kepergian suaminya akhirnya Putripun melahirkan seorang anak laki laki, anak tersebutpun di beri nama Boyo Patih. Dengan bergulirnya waktu Boyo Patihpun tumbuh besar sebagai pemuda yang tampan seperti ayahandanya. Sang ibupun memanjakanya, akan tetapi Boyo Patih bertekat ingin mencari ilmu kepada Sunan Giri di daerah Gresik. Boyo patih Berharap ibunya mau merestuinya, karena tekat anaknya yang begitu besar sang ibupun merestui kepergian anaknya untuk berguru kepada Sunan Giri. Boyo patih pun akhirnya pergi ke Gresik berniat mengaji dan nyantri di tempatnya Sunan Giri.

Sunan Giri menyambut muridnya ini dengan senang hati tak lama pengabdianya menjadi murid, Sunan Giri memberi Tugas kepada Boyo Patih Untuk mengambil kerisnya yang bernama Korowelang yang sudah di pinjam oleh Mbok Rondo (Nyi Luarah) di daerah lamongan. Ini terjadi pada saat Penyebaran Islam Di nusantara Ketika para wali mulai aktif melakukan dakwanya di tanah jawa. Sekitar Tahun 1400-an ketika itu ada seorang Nyi lurah meminjam keris Sunan Giri untuk mencegah huru hara atau konflik sekaligus menjaga kewibawaanya di wilayah sekitar lamongan.

Kanjeng Sunan Giri pun memberikan kerisnya kepada Mbok rondo (Nyi lurah) tersebut dengan beberapa syarat, diantara syarat yang di berikan itu adalah tidak boleh di buat untuk hal kekerasan seperti membunuh dan harus segerah di kembalikan kepada Kanjeng Sunan Giri tersebut secara langsung Setelah Tujuh Purnama. Akhirnya Nyi lurah tersebut berhasil mewujudkan cita –cita dan harapanya. Hari berganti hari tujuh purnama pun terlewatkan namun belum ada tanda- tanda Nyi lurah untuk mengembalikan Pusaka milik Kanjeng Sunan Giri, Hal ini membuat Gelisah Sang Kanjeng Sunan, khawatir terjadi penyalahgunaan atas pusaka tersebut, yang kemudian Sunan Giri mengutus Boyo Patih untuk Menemui Nyi Lurah untuk mengingatkan tentang pusaka keris Koro welang yang telah di di pinjamnya.

Karena pengabdianya yang begitu besar kepada Gurunya, Boyo Patih pun melaksanakan apa yang sudah di titahkan oleh Sunan Giri. Berangkatlah Boyo Patih ke Lamongan untuk menemui Nyi lurah. Boyo Patih sangat faham daerah lamongan karena beliau juga lahir di daerah pesisir Lamongan yang sekarang di beri nama Paciran, Pada saat itu Wilayah lamongan masih terdiri dari alas (hutan) yang lebat yang mengapit kiri kanan jalan kecil yang menghubungkan antara Gresik dan Lamongan. Beliau tidak mengalami kesulitan dalam menghafal jalan untuk menuju ke Lamongan. Singkat cerita sampailah Boyo Patih ke kediaman Mbok rondo ( Nyi Lurah), beliau di sambut baik oleh Nyi lurah Sesampainya di lamongan.

Boyo Patih menyampaikan apa yang telah di titahkan oleh Kanjeng Suna Giri, Namun Nyi lurah Tidak mau memberikan Keris pusaka Tersebut kepada Boyo Patih sebab Nuyi Lurah sudah janji pada Sunan bahwa dia sendiri yang akan datang sendiri untuk mengembalikan Keris pusaka kepada Kanjeng Sunan. Padahal Boyo Patih tersebut juga “merasa” di tugasi untuk mengambil keris pusaka kanjeng Sunan. Akhirnya Boyo Patih mengalah dan menunggu janji Nyi lurah, Boyo patih tidak pulang kepada Sunan berniat untuk memantau apa yang di lakukan oleh Nyi Lurah selama tujuh hari, Boyo Patih mulai curiga kalo Nyi Lurah tidak ada Niat untuk mengembalikan Keris itu dan memiliki niat buruk. Setelah di tunggu selama Tujuh hari Tujuh malam dan tidak ada tanda –tanda Nyi Lurah untuk mengembalikan keris itu akhirnya Boyo Patih pun beraksi. Beliau khawatir tidak bisa mengemban amanat tentang apa yang sudah di perintahkan oleh Kanjeng Sunan Giri.

Karomah – Boyo Patih sangat banyak diantaranya bisa mnyerupai sesuatu yang beliau inginkan. Karena merasa tidak bisa mengemban amanat tugas yang di berikan oleh Kanjeng Sunan, Boyo Patih merasa ingin mengambil Keris tersebut dan berniat mengambil keris koro welang itu dari Nyi Lurah untuk di kembalikan langsung ke tangan Kanjeng Sunan. Pada pagi hari Nyi lurah sedang menyapu di pekarangan kediamanya, Boyo patih menyamar menjadi daun berharap bisa mengambil keris tersebut yang di selipkan di perut Nyi Lurah, yang akhirnya di ketahui oleh Nyi lurah, Boyo Patih pun bergegas melarikan diri. Nyi lurah sangat sakti hinggah mampu mengetahui penjelamaan dari Boyo patih. Suatu ketika Boyo Patih pun menemukan kelemahan dari Nyi lurah, beliau sangat suka dengan kucing maka bergegaslah Boyo Patih menjelma menjadi kucing serta mendekat kepada Nyi lurah. Nyi lurah lengah serta tidak curiga sedikitpun karena sangat senangnya akan kehadiran kucing itu ( penjelmaan dari Boyo putih). Nyi lurah berniat untuk memelihara Kucing itu dengan kasih sayang di berinya makan serta di elus – elus kucing tersebut di pangkuan Nyi Lurah secara diam diam Kucing pejelmaan dari Boyo Patih itu mengambil Keris yang terselip di ikatan perut Nyi Lurah. Dan bergegas melarikan diri. Nyi lurah berteriak menyuruh anak buahnya untuk mengejar kucing yang sudah berubah menjadi Boyo Patih, Penduduk Sepontan ikut mengejar mengira Boyo patih adalah seorang Pencuri keris Nyi Lurah. Kejar mengejar ini berlangsung sangat jauh hingga mencapai daerah lamongan yang sekarang menjadi kota. Pada saat perbatasan antara pucuk dan babat Boyo patih sangat terpojok, sebuah pohon besar mengahalangi jalanya, Boyo Patih Pasrah dan berdo’a kepada Alloh minta pertolongan dan seketika itu anak buah NYi Lurah melemparkan anak tombak kepada beliau ternyata datang seekor kijang (rusa) yang menghalanginya dan menyelamatkanya hingga rusa tersebut terkena anak tombak yang di lemparkan oleh anak buah Nyi Lurah tersebut. Beliau bersyukur kepada Alloh yang menyelamatkanya lewat perantara kijang tersebut serta berucap jangan sampai anak turunya memakan daging rusa. Boyo Patih pun bergegas pergi dan melanjutkan pelarianya sesampainya di daerah yang sekarang adalah Desa Medang Kecamatan Glagah beliau merasa terkepung tidak ada jalan keluar karena masa yang begitu banyak, Di tempat itu terdapat Jublangan (kolam) yang akhirnya beliau menceburkan dirinya di dalam air kolam dengan berdo’a kepada Alloh supaya selamat dari kejaran masa tersebut.

Karomah Boyoh patih ternyata juga bisa bernafas di dalam air. Beliau masuk ke dalam rong (lubangan kecil rumah ikan lele) Masa yang begitu banyak menghampiri kolam tersebut dengan membawa obor aka tetapi tidak ada tanda tanda Boyo Patih di Tempat itu. Ketika masa curiga kalo Boyo patih ngumpet di dalam kolam itu beribu ribu ikan lele muncul ke permukaan air kolam, sehinggah tidak ada selah orang untuk menyebur ke air kolam tersebut, sehinggah membuat anggapan masa kalo saja Boyo Patih tidak ada di dalamnya. Kalau saja Boyo Patih ada di kolam itu beliau pasti meninggal karena terkena patil (senjata ikan lele) yang begitu banyak. Pergilah masa untuk kembali dan berhenti untuk melakukan pengejaran. Dan lagi lagi Boyo Patih bersyukur Karena Alloh telah menyelamatkannya dari kepungan massa lewat perantara ikan lele seketika itu beliau berucap anak turunya jangan ada yang memakan ikan lele karena ikan lele telah berjasa menyelamatkannya. Setelah masa pergi, Boyo Patih pun bergegas keluar dari kolam tersebut dan pergi ke Gresik untuk mengembalikan keris yang bernama Koro Welang itu kepada Kanjeng Sunan Giri.

Boyo Patih mendapat gelar dari sang Sunan dengan nama “Sayyid Abd. Shomad”, Setelah pengabdianya yang begitu lama kepada Sunan Giri, Boyo Patih pun kembali ke daerah Lamongan untuk membabat alas mengajarkan agama Islam serta mendirikan desa-desa di antarnya adalah Desa Medang Tempat di mana beliau di selamatakan oleh ikan lele. Beliau juga di makamkan di tempat tersebut dan di muliakan oleh masyarakat dan penduduk setempat, bagi penduduk Lamongan yang masih ada keturunan dari Mbah Boyo Patih apabila melanggar memakan atau menjual ikan lele dia akan mengalami Gatal Gatal serta kulit melupas dan juga ada yang belang putih seperti kulit Ikan lele dan mungkin tidak bisa di sembuhkan oleh obat dan medis kecuali Datang ziarah ke Makam Waliyulloh Mbah Boyo Patih untuk Tawassul dan membasuh bagian yang sakit dengan air kolam makam Mbah Boyo Patih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s